Fish

Selasa, 15 Mei 2012

Metode Penelitian


BAB 3
METODE PENELITIAN

3.1.    Populasi Sampel
3.1.1.      Populasi
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang diterapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2005 : 55). Populasi dalam penelitian ini adalah peserta didik kelas X semester II SMA Negeri 1 Salem Tahun Ajaran 2011/ 2012.
3.1.2.      Sampel
Sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki populasi tersebut (Sugiyono, 2005 : 56). Peserta didik yang diambil untuk penelitian, duduk pada kelas yang sama, mendapat materi berdasarkan kurikulum yang sama dan pembagian kelas tidak berdasarkan rangking sehingga peserta didik sudah tersebar secara acak pada kelas yang telah ditentukan. Kemampuan matematika peserta didik di tiap kelas juga sama, ditunjukkan dengan data hasil ulangan matematika semester gasal yang homogen. Oleh karena itu, teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah  cluster random sampling.
Pada penelitian ini, penulis memilih secara acak satu kelas sebagai kelas eksperimen dan satu kelas sebagai kelas kontrol. Kelas X.5 sebagai kelas eksperimen diberikan perlakuan berupa pembelajaran CIRC dengan pendekatan pembelajaran Open-Ended berbantuan LKPD. Kelas X.4 sebagai kelas kontrol diberikan perlakuan berupa pembelajaran expositori berbantuan LKPD.

3.2.    Variabel Penelitian
Variabel adalah objek penelitian atau apa yang menjadi titik perhatian suatu penelitian (Arikunto, 2006 : 118)
3.2.1.      Variabel Bebas (Independen)
Sesuai dengan permasalahan yang sudah dirumuskan, maka variabel bebas dalam penelitian ini adalah penerapan model pembelajaran CIRC (Cooperative Integrated Reading and Composition) dengan pendekatan pembelajaran Open-Ended dan motivasi peserta didik dengan penerapan model pembelajaran CIRC dengan pendekatan pembelajaran Open-Ended.
3.2.2.      Variabel Terikat (Dependen)
Variabel terikat dalam penelitian ini adalah kemampuan komunikasi matematika.

3.3.    Desain Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen yang diawali dengan menentukan populasi dan memilih sampel dari populasi yang sudah ada. Berikut adalah bagan rancang penelitian yang digunakan.



Gambar 3.1
Bagan Rancang Penelitian
Hasil Penelitian:
Perlakuan A lebih efektif daripada perlakuan B
Atau
Perlakuan A tidak lebih efektif dibandingkan perlakuan B

Perlakuan B

pembelajaran konvensional berbantuan LKPD
Perlakuan A
pembelajaran CIRC dengan pendekatan pembelajaran Open-Ended berbantuan
LKPD
 Analisis
1.    Uji ketuntasan
2.    Uji Perbedaan rata-rata
3.    Uji regresi linear



Hasil A
Hasil B
Analisis
1.      Validitas
2.      Daya Beda
3.      Tingkat kesukaran
4.      Reliabilitas


Tes uraian aspek kemampuan komunikasi
Kelas Ujicoba
Tes Ujicoba
Kontrol
Eksperimen
1.    Uji normalitas
2.    Uji homogenitas
3.    Uji kesamaan dua rata-rata
Kelas eksperimen dan kelas kontrol
 





















3.4.    Prosedur Penelitian
Prosedur penelitian ini adalah sebagai berikut.
(1)         Menentukan populasi penelitian yaitu peserta didik kelas X SMA Negeri 1 Salem.
(2)         Menentukan sampel penelitian dengan menggunakan teknik random sampling. Kemudian menentukan kelas uji coba di luar sampel penelitian.
(3)         Menyusun kisi-kisi tes berdasarkan materi yang digunakan yakni materi trigonometri.
(4)         Menyusun kisi-kisi skala motivasi.
(5)         Menyusun instrumen tes uji coba dan skala motivasi berdasarkan kisi-kisi yang ada dan disesuikan dengan alokasi waktu yakni 90 menit.
(6)         Menyusun rencana pembelajaran.
(7)         Melaksanakan pembelajaran.
(8)         Mengujicobakan instrumen tes ujicoba dan skala motivasi pada kelas uji coba.
(9)         Menganalisis data hasil tes uji coba instrumen untuk mengetahui validitas, reabilitas, taraf kesukaran, dan daya pembeda soal.
(10)     Menganalisis data hasil tes skala motivasi yang diujicobakan untuk mengetahui validitas dan reliabilitas.
(11)     Menentukan soal-soal dan pernyataan yang telah di analisis.
(12)     Melaksanakan tes.
(13)     Menganalisis hasil tes.
(14)     Menyusun hasil penelitian.
3.5.    Metode Pengumpulan Data
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
3.5.1.      Metode Skala
Sebagai alat ukur, skala memiliki karekteristik khusus yang membedakannya dari berbagai bentuk alat pengumpulan data yang lain seperti skala, daftar isian, inventori, dan lain sebagainya. Berikut adalah beberapa perbedaan antara skala dengan angket.
(1)         Data yang diungkap oleh angket berupa data factual atau yang dianggap fakta dan kebenaran yang diketahui oleh subjek, sedangkan data yang diungkap oleh skala berupa konstrak atau konsep psikologis yang menggambarkan kepribadian individu.
(2)         Pertanyaan dalam angket berupa pertanyaan langsung terarah kepada informasi mengenai data yang hendak diungkap. Sedangkan dalam skala pertanyaan sebagai stimulus tertuju pada indicator perilaku guna memancing jawaban yang merupakan refleksi dari keadaan diri subjek yang biasanya tidak disadari oleh responden yang bersangkutan.
(3)         Responden terhadap angket tahu persis apa yang ditanyakan dalam angket dan informasi apa yang dikehendaki oleh pertanyaan yang bersangkutan. Responden terhadap skala sekalipun memahami isi pertanyaannya, biasanya tidak menyadari arah jawaban yang dikehendaki dan kesimpulan apa yang sesungguhnya diungkap oleh pertanyaan tersebut.
(4)         Jawaban pada angket tidak dapat diberi skor (dalam arti harga atau nilai) melainkan diberi angka coding sebagai identifikasi atau klasifikasi jawaban.respon pada skala diberi skor melewati proses penskalan (scaling).
(5)         Satu angket dapat mengungkap informasi  mengenai banyak hal sedangkan satu skala psikologis hanya diperuntukan guna mengungkap suatu atribut tunggal (unidimensional).
(6)         Karakteristik yang disebutkan pada poin 2 dan poin 4 menyebabkan data hasil angket tidak perlu diuji lagi reliabilitasnya secara psikometris. Sedangkan pada skala harus teruji reliabilitasnya secara psikometris dikarenakan relevansi isi dan konteks kalimat yang digunakan sebagai stimulus pada skala lebih terbuka terhadap error.
(7)         Validitas angket lebih ditentukan oleh kejelasan tujuan dan lingkup informasi yang hendak diungkap sedangkan validitas skala lebih ditentukan oleh kejelasan konsep psikologis yang hendak diukur dan operasionalisasinya.
(Azwar, 2011 : 5)  
Istilah skala dalam pengembangan instrument ukur lebih banyak dipakai untuk menamakan alat ukur aspek afektif. Sehingga skala memiliki beberapa karakteristik sebagai berikut.
(1)      Stimulusnya berupa pertanyaan atau pernyataan yang tidak langsung mengungkap atribut yang hendak diukur melainkan mengungkap indicator perilaku dari atribut yang bersangkutan. Sehingga jawabannya lebih bersifat proyektif yaitu berupa proyeksi dari perasaan atau kepribadiannya.
(2)      Dikarenakan atribut psikologis diungkap secara tidak langsung lewat indicator-indikator perilaku sedangkan indicator perilaku diterjemahkan dalam bentuk aitem-aitem, maka skala selalu berisi banyak aitem.
(3)      Respon subjek tidak diklasifikasikan sebagai jawaban “benar” atau “salah”.
(Azwar, 2011 : 4)
Menurut Cronbach yang dikutip oleh Saifudin Azwar (2011 : 4) kedua ciri tersebut diatas disebut sebagai ciri pengukuran terhadap performansi tipikal (typical performance), yaitu performansi yang menjadi karakter tipikal seseorang dan cenderung dimunculkan secara sadar atau tidak sadar dalam bentuk respons terhadap situasi-situasi tertentu yang sedang dihadapi. Dalam penerapan psikodiagnostika, skala-skala performansi tipikal digunakan untuk pengungkapan aspek-aspek afektif seperti minat, sikap, motivasi belajar, dan lain sebagainya.   
Oleh karena itu, metode ini digunakan untuk mengukur skor motivasi peserta didik.
3.5.2.      Metode Tes
Menurut Arikunto (2006:150) tes sebagai salah satu metode pengumpulan data, memegang peranan yang cukup penting. Metode tes digunakan untuk mendapatkan skor tes kemampuan komunikasi peserta didik setelah diadakan perlakuan. Metode ini menggunakan instrumen tes berbentuk uraian. Data yang diperoleh melalui tes inilah yang merupakan data utama dalam penelitian, karena data inilah yang digunakan untuk menguji hipotesis penelitian.


3.5.3.      Metode Dokumentasi
Metode dokumentasi dalam penelitian ini digunakan untuk memperoleh data-data tertulis tentang daftar nama peserta didik, jumlah peserta didik dan data nilai ulangan matematika semester gasal peserta didik yang selanjutnya akan menjadi data awal untuk dianalisis uji normalitas, homogenitas dan uji kesamaan rata-rata. Hasil analisis inilah yang digunakan untuk menentukan sampel yang digunakan.

3.6.    Penskoran Instrumen penelitian
3.6.1.      Penskoran Skala
Skala pada penelitian ini disusun dengan pertanyaan bersifat tertutup dengan skala 1-5, penskoran pada butir positif yaitu sangat setuju (ST) memiliki skor 5, setuju (S) memiliki skor 4, ragu-ragu (R) memiliki skor 3, kurang setuju (KS) memiliki skor 2 dan tidak setuju (TS) memiliki skor 1. Penskoran pada butir negatif yaitu sangat setuju (ST) memiliki skor 1, setuju (S) memiliki skor 2, ragu-ragu (R) memiliki skor 3, kurang setuju (KS) memiliki skor 4 dan tidak setuju (TS) memiliki skor 5.
3.6.2.      Penskoran Tes kemampuan Komunikasi Matematika
Untuk mengukur kemampuan komunikasi matematika peserta didik digunakan tes yang berbentuk uraian. Penskoran untuk setiap butir soal tersebut berbeda-beda dengan yang lainnya tergantung dari bobot soal tersebut sehingga rentangnya dari 0 – skor maksimum tiap butir soal. Skor maksimum jika jawaban yang diberikan peserta didik sempurna sedangkan skor 0 jika peserta didik tidak menjawab sama sekali butir soal tersebut. Pedoman penskoran dan kunci jawaban soal dapat dilihat pada Lampiran.

3.7.    Analisis dan Hasil Uji Coba Instrumen
sebelum Instrumen digunakan pada penelitian terlebih dahulu instrumen tersebut diujicobakan pada kelas uji coba. Uji coba tersebut dilakukan untuk mengetahui validitas dan reliabilitas instumen.
3.7.1.      Instrumen Skala
3.7.1.1.     Validitas Skala Motivasi
Uji validitas digunakan untuk mengukur sah atau valid tidaknya suatu kuesioner. Suatu kuesioner dikatakan valid jika pertanyaan pada kuesioner tersebut mampu untuk mengungkapkan sesuatu yang akan diukur oleh kuesioner tersebut.
Untuk menghitung validitas skala dalam Azwar (2011 : 100) dapat digunakan rumus korelasi product-moment sebagai berikut:
Keterangan:
      : koefisien korelasi tiap item,
N         : banyaknya subjek uji coba,
  : jumlah skor item,
    : jumlah skor total,
  : jumlah kuadrat skor item,
  : jumlah kuadrat skor total,
: jumlah perkalian skor item dan skor total.
Interpretasi koefisien validitas suatu skala bersifat relative karena tidak ada batasan universal yang menunjuk pada angka minimal yang harus dipenuhi. Menurut Cronbach yang dikutip oleh Azwar (2011 : 103) “jawaban terhadap pertanyaan berapa tinggi koefisien validitas yang dianggap memuaskan adalah yang tertinggi yang dapat anda peroleh”. Hal ini dipertegas lagi olehnya dalam kaitan dengan fungsi tes untuk memprediksi hasil suatu prosedur seleksi. Dikatakannya bahwa koefisien yang berkisar antara 0,30 sampai dengan 0,50 telah dapat memberikan kontribusi yang baik terhadap efisiensi suatu lembaga pelatihan.
Oleh karena itu, dalam penelitian ini digunakan batasan r tabel, jika   maka butir tersebut valid.
Berdasarkan perhitungan butir skala motivasi belajar sebanyak 30, terdapat 26 butir yang valid dan 4 butir yang tidak valid. Adapun butir skala yang valid yaitu butir 1, 2, 3, 4, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 16, 18, 19, 20, 23, 24, 25, 26, 27, 28, 29 dan 30 sedangkan butir skala  yang tidak valid yaitu butir 5, 17, 21, dan 22. Perhitungan validitas skala motivasi belajar dapat dilihat pada Lampiran.
3.7.1.2.     Reliabilitas
Menurut Azwar (2011 : 90) data yang diperoleh melalui penyajian satu bentuk skala yang dikenakan hanya sekali saja pada sekelompok responden maka rumus yang digunakan untuk menghitung reliabilitas adalah koefisien reliabilitas alpha sebagai berikut.
  dengan
  ,    , dan  
Keterangan:
     : koefisien reliabilitas alpha,
  : varians skor belahan 1,
  : varians skor belahan 2,
   : varians skor skala,
    : banyaknya responden.
Tingginya koefisien reliabilitas suatu skala menentukan sejauhmana orang boleh dan bersedia mempercayai skor hasil tes tersebut. Karena keterpercayaan bersifat relative, signifikansi koefisien reliabilitas pun bersifat relative, tergantung kepada penilai atau pemakai tes itu sendiri untuk menentukan apakah suatu koefisien reliabilitas sudah cukup memuaskan bagi keperluannya atau belum.
Oleh karena itu, pada penelitian ini digunakan batasan koefisien reliabilitas 0,9. Jika   0,9 maka skala tersebut reliable. Setelah dilakukan perhitungan koefisien reliabilitas pada tes skala uji coba motivasi belajar diperoleh  (perhitungan reliabilitas uji coba skala motivasi belajar dapat dilihat pada lampiran). Hal ini menunjukan perbedaan (variasi) yang tampak pada skor skala tersebut mampu mencerminkan 90 % dari variasi yang terjadi pada skor murni kelompok subjek yang bersangkutan. Dapat pula dikatakan bahwa 10% dari perbedaan skor yang tampak disebabkan oleh variasi error atau kesalahan pengukuran tersebut. 
Berdasarkan analisis validitas dan reliabilitas dapat diperoleh butir skala motivasi belajar yang dipakai adalah butir 1, 2, 3, 4, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 16, 18, 19, 20, 23, 24, 25, 26, 27, 28, 29 dan 30 sedangkan butir skala  yang tidak dipakai yaitu butir 5, 17, 21, dan 22.
3.7.2.      Instrumen Soal Tes Kemampuan Komunikasi Matematika
3.7.2.1.     Validitas
Menurut Arikunto (2009 : 72) untuk menghitung validitas masing-masing butir digunakan rumus sebagai berikut.
Keterangan:
       : koefisien korelasi antara variabel    dan variabel , dua variabel yang dikorelasikan (  dan ,
   : jumlah perkalian dan ,
      : kuardat dari ,
      : kuardat dari .
Hasil perhitungan validitas soal dengan menggunakan rumus korelasi product moment dengan N = 40 dan = 5%  jika  maka soal tersebut valid. Dari hasil perhitungan 15 soal yang diuji cobakan diperoleh hasil 7 soal yang valid yaitu soal nomor 8, 9, 10, 11, 12, 13, dan 15, sedangkan soal yang tidak valid ada 8 soal yaitu soal nomor 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, dan 14. (perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran)
3.7.2.2.     Reliabilitas
Menurut Arikunto (2009 : 109) untuk mengetahui reliabilitas tes dengan menggunakan koefisien alpha atau Cronbach’s Alpha, yaitu sebagai berikut.
 
  dan  
Keterangan:
     : reliabilitas tes secara keseluruhan,
        : banyaknya soal,
 : jumlah varians tiap-tiap skor,
     : varians total,
      : banyaknya butir soal.
Instrumen pengamatan dinyatakan reliabel jika rtabel maka soal tersebut reliabel (Arikunto, 2006: 97).
Berdasarkan perhitungan diperoleh   , kemudian harga  ini bandingkan dengan kriteria di atas dan diperoleh tes tersebut reliabel. (Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran)
3.7.2.3.     Daya Pembeda
Daya pembeda soal adalah kemampuan suatu soal untuk membedakan antara peserta didik yang pandai (menguasai materi) dengan peserta didik yang kurang pandai (kurang/tidak menguasai materi). Untuk menguji daya pembeda diperlukan langkah-langkah sebagai berikut.
(1)   Menghitung jumlah skor total tiap peserta didik.
(2)   Mengurutkan skor total mulai dari skor terbesar sampai dengan skor terkecil.
(3)   Menetapkan kelompok atas dan kelompok bawah. Jika jumlah peserta didik banyak (diatas 30) dapat ditetapkan 27%.
(4)   Menghitung rata-rata skor untuk masing-masing kelompok (kelompok atas maupun kelompok bawah).
(5)   Menghitung daya pembeda soal.
(6)   Membandingkan daya pembeda dengan criteria.
Rumus yang digunakan untuk menghitung daya pembeda soal bentuk uraian adalah sebagai berikut.
 
Keterangan:
                   : daya pembeda,
                 : rata-rata nilai kelompok atas,
                 : rata-rata nilai kelompok bawah,
Skor maks       : skor maksimum.
Dengan kriteria sebagai berikut.
0,40 ke atas     : sangat baik,
0,30 – 0,39      : baik,
0,20 – 0,29      : cukup, soal perlu diperbaiki,
0,19 ke bawah            : kurang baik, soal harus dibuang.
(Arifin, 2011:133)
Berdasarkan perhitungan analisis daya beda diperoleh soal dengan daya beda yang sangat baik adalah soal nomor 8, 9, 10, 11 dan 15, soal dengan daya pembeda yang cukup baik adalah soal nomor 7 dan 14, dan soal dengan daya pembeda yang kurang baik adalah soal nomor 1, 2, 3, 4, 5, 6, 12, dan 13. (Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran)
3.7.2.4.     Tingkat Kesukaran
Tingkat kesukaran soal adalah peluang untuk menjawab benar suatu soal pada tingkat kemampuan tertentu yang biasa dinyatakan dengan indeks. Berikut langkah-langkah untuk menghitung tingkat kesukaran soal berbentuk uraian.
(1)   Menghitung rata-rata skor untuk tiap butir soal dengan rumus:
(2)   Menghitung tingkat kesukaran dengan rumus:
(3)   Membandingkan tingkat kesukaran dengan criteria sebagai berikut.
0,00 – 0,30           : sukar
0,31 – 0,70           : sedang
0,71 – 1,00           : mudah
(4)   Membandingkan penafsiran tingkat kesukaran dengan cara membandingkan kkoefisien tingkat kesukaran dengan criteria.
(Arifin, 2011: 135)
Berdasarkan perhitungan tingkat kesukaran soal uraian diperoleh soal dengan kriteria mudah adalah soal nomor 4, 5, 7, 9, 12, dan 13, soal dengan kriteria sedang adalah soal nomor 6, 8, 11, dan 15, soal dengan kriteria sulit adalah soal nomor  1, 2, 3, 10, dan 14. (Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran)
3.7.3.Penentuan Instrumen
3.7.3.1.                        Instrumen Skala Motivasi
Setelah dilakuakn proses penghitungan validitas dan reliabilitas pada hasil uji coba skala motivasi diperoleh data sebagai berikut.
Table 3.1 tabel instrument skala yang dipakai
No Soal
Validitas
Reliabilitas
Keterangan
No Soal
Validitas
Reliabilitas
Keterangan
1
Valid
reliabel
Dipakai (no. 1)
16
Valid
reliabel
Dipakai (no. 15)
2
Valid
Dipakai (no. 2)
17
Tidak valid
Tidak dipakai
3
Valid
Dipakai (no. 3)
18
Valid
Dipakai (no. 16)
4
Valid
Dipakai (no. 4)
19
Valid
Dipakai (no. 17)
5
Tidak valid
Tidak dipakai
20
Valid
Dipakai (no. 18)
6
Valid
Dipakai (no. 5)
21
Tidak valid
Tidak dipakai
7
Valid
Dipakai (no. 6)
22
Tidak valid
Tidak dipakai
8
Valid
Dipakai (no. 7)
23
Valid
Dipakai (no. 19)
9
Valid
Dipakai (no. 8)
24
Valid
Dipakai (no. 20)
10
Valid
Dipakai (no. 9)
25
Valid
Dipakai (no. 21)
11
Valid
Dipakai (no. 10)
26
Valid
Dipakai (no. 22)
12
Valid
Dipakai (no. 11)
27
Valid
Dipakai (no. 23)
13
Valid
Dipakai (no. 12)
28
Valid
Dipakai (no. 24)
14
Valid
Dipakai (no. 13)
29
Valid
Dipakai (no. 25)
15
Valid
Dipakai (no. 14)
30
Valid
Dipakai (no. 26)
3.7.3.2.                        Instrumen Soal Kemampuan Komunikasi Mtematika
Setelah dilakukan proses analisis perhitungan validitas, reliabilitas, daya pembeda, dan tingkat kesukaran dari 15 soal uji coba, hanya 10 soal yang digunakan untuk mengukur kemampuan komunikasi matematika.
Table 3.2 tabel instrument soal yang digunakan
No soal
Validitas
Tingkat kesukaran
Daya pembeda
Reliabilitas
Keterangan
1
Tidak valid
Sukar
Kurang baik
Reliabel
Tidak dipakai
2
Tidak valid
Sukar
Kurang baik
Tidak dipakai
3
Tidak valid
Sukar
Kurang baik
Tidak dipakai
4
Tidak valid
Mudah
Kurang baik
Tidak dipakai
5
Tidak valid
Mudah
Kurang baik
Dipakai dengan soal diperbaiki
6
Tidak valid
Sedang
Kurang baik
Tidak dipakai
7
Tidak valid
Mudah
Cukup baik
Dipakai dengan soal diperbaiki
8
Valid
Sedang
Sangat baik
Dipakai
9
Valid
Mudah
Sangat baik
Dipakai
10
Valid
Sukar
Sangat baik
Dipakai
11
Valid
Sedang
Sangat baik
Dipakai
12
Valid
Mudah
Kurang baik
Dipakai
13
Valid
Mudah
Kurang baik
Dipakai
14
Tidak valid
Sukar
Cukup baik
Dipakai dengan soal diperbaiki
15
Valid
Sedang
Sangat baik
Dipakai
Perhitungan selengkapnya terdapat pada Lampiran.
3.8.          Metode Analisis Data Awal
Uji persyaratan ini dimaksud untuk mengetahui kelayakan dari sampel yang terpilih. Data yang digunakan untuk uji kelayakan ini adalah hasil ulangan akhir semester gasal.
3.8.1.      Uji Normalitas
Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah data skor tes kelompok kontrol dan kelompok eksperimen berdistribusi normal atau tidak. Uji normalitas yang digunakan peneliti dalam penelitian ini adalah menggunakan uji Chi-Square.
Menurut Sugiyono (2010 : 79) pengujian normalitas data dengan chi-square dilakukan dengan cara membandingkan kurva normal yang terbentuk dari data yang telah terkumpul dengan kurva normal baku/standard. Langkah-langkah yang diperlukan adalah sebagai berikut.
(1)   Menentukan jumlah kelas interval. Untuk pengujian dengan chi-square ini, jumlah kelas interval ditetapkan enam. Hal ini sesuai dengan enam bidang yang ada pada kurva normal baku.
(2)   Menentukan panjang kelas interval.
(3)   Menyusun ke dalam table distribusi frekuensi, sekaligus table penolong untuk menghitung harga chi-square hitung.
(4)   Menghitung (frekuensi yang diharapkan).
Cara menghitung , didasarkan pada presentasi luas tiap bidang kurva normal dikalikan jumlah data observasi (jumlah individu dalam sampel). Masing-masing baris mempunyai presentase yang berbeda. Baris pertama (2,7%), baris kedua (13,53%), baris ketiga (34,13%), baris keempat (34,13%), baris kelima (13,53%), dan baris keenam (2,7%).
(5)   Memasukan harga-harga  ke dalam table kolom , sekaligus menghitung harga-harga , dan   (harga chi kuadrat hitung).
(6)   Membandingkan harga chi kuadrat hitung dengan harga chi kuadrat tabel. Bila harga chi kuadrat hitung kurang dari harga chi kuadrat table, maka distribusi data dinyatakan normal, dan bila lebih dari dinyatakan tidak normal.
Berdasarkan sampel akan diuji hipotesis nol bahwa sampel tersebut berasal dari populasi berdistribusi normal melawan hipotesis tandingan bahwa distribusi tidak normal. Kriterianya adalah terima hipotesis nol bahwa populasi berdistribusi normal jika chi kuadrat hitung  yang diperoleh dari data pengamatan  kurang dari chi kuadrat table dengan derajat kebebasan dk = k-1 dan taraf signifikan 5 %. Dalam hal lainnya hipotesis nol ditolak.

3.8.2.      Uji Homogenitas
Uji ini digunakan untuk mengetahui apakah kelompok kontrol dan kelompok eksperimen berawal dari populasi yang memiliki varian yang sama atau tidak.
Hipotesis yang diuji adalah sebagai berikut.
 :  = , berarti varians kedua kelompok sama (data homogen).
 :     , berarti varians kedua kelompok tidak sama (data tidak homogen).
Untuk keperluan uji homogenitas digunakan rumus uji F, yaitu sebagai berikut.
Dan tolak  hanya jika  dengan  diperoleh dari daftar distribusi F dengan peluang  sedangkan derajat kebebasan  dan  masing-masing sesuai dk pembilang dan penyebut  (Sudjana,  2002: 250).
3.8.3.      Uji Kesamaan Dua Rata-rata
Setelah mengetahui bahwa data yang berasal dari kelas eksperimen dan kelas kontrol tersebut berdistribusi normal dan homogen, langkah selanjutnya sebelum dilakukan penelitian adalah dengan menguji apakah kemampuan awal kedua kelas tersebut sama. Untuk mengetahui kemampuan awal peserta didik tersebut digunakan uji kesamaan dua rata-rata dengan pasangan hipotesis sebagai berikut.
 
 
Karena nilai  tidak diketahui maka statistic yang digunakan adalah sebagai berikut.
  dengan  
Keterangan:
: rata-rata nilai kelas eksperimen.               : varians gabungan.
: rata-rata nilai kelaskontrol.                     : varians kelas eksperimen.
: banyaknya anggota kelas eksperimen.     : varians kelompok kontrol.
: banyaknya anggota kelas kontrol.
Kriteria pengujiannya adalah terima  jika  dimana  didapat dari daftar distribusi t dengan dk =  dan peluang . Untuk harga-harga t lainnya  ditolak. (Sudjana, 2002 : 239)

3.9.         Metode Analisis Data Kemampuan Komunikasi Matematika
Setelah diberikan perlakuan kelompok eksperimen dengan model pembelajaran CIRC dengan pendekatan pembelajaran Open-Ended berbantuan LKPD, sedangkan kelompok kontrol dengan perlakuan pembelajaran konvensional berbantuan LKPD. Kedua kelas tersebut diberikan tes kemampuan komunikasi matematika. Tes tersebut pada awalnya telah diujicobakan terlebih dahulu serta dianalisis validitas, tingkat kesukaran, daya pembeda dan reliabilitasnya. Hasil tes kemampuan komunikasi dari kedua kelas ini lah yang digunakan unutk menguji hipotesis penelitian.
3.9.1.      Uji Normalitas
Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah data skor tes kemampuan komunikasi matematika kelompok control dengan pembelajaran konvensional berbantuan LKPD dan kelompok eksperimen dengan penerapan model pembelajaran CIRC dengan pendekatan pembelajaran Open-Ended berbantuan LKPD berdistribusi normal atau tidak dan menentukan jenis statistic yang digunakan. Analisis yang digunakan sama pada saat uji normalitas data awal yaitu menggunakan uji Chi-Square.
3.9.2.      Uji Homogenitas
Uji ini digunakan untuk mengetahui apakah kelompok control dengan pembelajaran konvensional berbantuan LKPD dan kelompok eksperimen dengan pembelajaran CIRC dengan pendekatan pembelajaran Open-Ended berbantuan LKPD memiliki varian yang sama atau tidak. Analisis yang digunakan sama pada saat uji homogenitas data awal yaitu menggunakan uji F.
3.9.3.      Uji Kesamaan Dua Proporsi (Uji Ketuntasan)
Uji kesamaan dua proporsi dengan menggunakan uji pihak kanan dilakukan untuk mengetahui apakah rata-rata tes kemampuan komunikasi matematika peserta didik kelas eksperimen mencapai kriteria ketuntasan belajar. Menurut Mulyasa (2006 : 254) keberhasilan kelas dilihat dari jumlah peserta didik yang mampu mencapai KKM. Dalam penelitian ini KKM klasikal yang digunakan adalah KKM klasikal di SMA Negeri 1 Salem yaitu 75% dari jumlah peserta didik yang ada di kelas tersebut. Hipotesis yang diuji adalah sebagai berikut.
H0 :  , artinya proporsi peserta didik kelas eksperimen yang tuntas tidak lebih tinggi dari 75%.
H1 : , artinya proporsi peserta didik kelas eksperimen yang tuntas lebih tinggi dari 75%.
Rumus uji proporsi pihak kanan adalah sebagai berikut.
4.     
keterangan:
: batas minimal sampel dikatakan tuntas belajar, yaitu 75%,
x    : banyak peserta didik yang tuntas,
n    : banyaknya peserta didik pada kelas ekperimen.
 Dengan kriteria pengujiannya adalah H0 ditolak jika z hitung z (0,5- a) dengan taraf signifikansi 5% (Sudjana, 2002: 234).
3.9.4. Uji Kesamaan Dua Rata-rata (Uji t)
Uji kesamaan dua rata-rata (uji pihak kanan) dilakukan untuk mengetahui apakah rata-rata skor tes kemampuan komunikasi matematika peserta didik kelas eksperimen lebih baik dari rata-rata skor tes kemampuan komunikasi matematika peserta didik kelas kontrol. Hipotesis yang diuji adalah sebagai berikut.
H0 : μ1  μ2, berarti rata-rata hasil tes kemampuan komunikasi matematika peserta didik kelas eksperimen (yang diajar dengan penerapan model pembelajaran CIRC dengan pendekatan pembelajaran Open-Ended) kurang dari atau sama dengan rata-rata hasil tes kemampuan komunikasi matematika peserta didik kelas kontrol (yang diajar dengan model pembelajaran konvensional).
H1 : μ1  μ2, berarti rata-rata hasil tes kemampuan komunikasi matematika peserta didik kelas eksperimen (yang diajar dengan penerapan model pembelajaran CIRC dengan pendekatan pembelajaran Open-Ended) lebih baik dari rata-rata hasil tes kemampuan komunikasi matematika peserta didik kelas kontrol (yang diajar dengan model pembelajaran konvensional).
Rumus thitung yang digunakan sangat ditentukan hasil uji kesamaan variansi antar kedua kelompok, maka kemungkinan rumus thitung yang digunakan adalah sebagai berikut.
Jika varians kedua kelompok tersebut sama, maka digunakan rumus:
Keterangan: 
: rata-rata nilai kelompok eksperimen,
: rata-rata nilai kelompok kontrol,
n1    : jumlah anggota kelompok eksperimen,
n2    : jumlah anggota kelompok kontrol,
  : varians kelompok eksperimen,
  : varians kelompok kontrol,
  : Varians gabungan.
Kriteria pengujian adalah tolak H0 jika t > t1-a dimana t1-a  didapat dari daftar distribusi Student dengan dk =  dan peluang = 1 - a  (a = 5 %). (Sudjana, 2002: 239).
3.9.5. Analisis Regresi
Menurut Sugiyono (1999:227) regresi dalam statistika adalah salah satu metode untuk menentukan tingkat pengaruh suatu variabel terhadap variabel yang lain. Variabel yang pertama disebut dengan bermacam-macam istilah: variabel penjelas, variabel eksplanatorik, variabel independen, variabel bebas, atau veriabel . Variabel yang kedua adalah variabel yang dipengaruhi, variabel dependen, variabel terikat, atau variabel . Analisis regresi dilakukan bila hubungan kedua variabel bebas dan variabel terikat berupa hubungan kausal atau fungsional.
3.9.5.1. Bentuk Persamaan Regresi Linear Sederhana
Dalam penelitian ini analisis regresi dilakukan untuk mengetahui hubungan fungsional antara variabel skor kemampuan komunikasi matematika peserta didik (variable Y) dengan variabel skor motivasi belajar peserta didik yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran CIRC dengan pendekatan pembelajaran Open-Ended berbantuan LKPD (variable X), sehingga dapat dilakukan perkiraan skor kemampuan komunikasi matematika jika diketahui skor motivasi belajar peserta didik atau sebaliknya. Oleh karena itu untuk menunjukkan apakah motivasi peserta didik yang diajar dengan menerapkan model pembelajaran CIRC dengan pendekatan pembelajaran Open-Ended berbantuan LKPD berperan terhadap kemampuan komunikasi matematika maka dilakukan uji regresi linear sederhana  dengan rumus . (Sudjana, 2003:6)
keterangan:
 : subyek pada variabel independen yang mempunyai nilai tertentu
 : subyek dalam variabel dependen yang diprediksikan
 : harga  ketika = 0 (harga konstan)
 : angka arah atau koefisien regresi, yang menunjukkan angka peningkatan ataupun penurunan variabel dependen yang didasarkan pada variabel independen. Bila b (+) arah garis naik dan bila (-) maka arah garis turun.
Koefisien a dan b dengan menggunakan metode kuadrat terkecil dihitung sebagai berikut.
Keterangan:
X         : skor motivasi peserta didik yang diajar dengan menerapkan model            pembelajaran CIRC dengan pendekatan Open-Ended.
Y         : skor kemampuan komunikasi matematika.
3.9.5.2. Uji Keberartian dan Kelinieran Arah Regresi Linier Sederhana
Uji keberartian arah regresi digunakan untuk mengetahui apakah persamaan regresi dapat digunakan untuk memprediksi Y dan X. Sedangkan uji kelinieran regresi digunakan untuk menguji apakah model linier yang diambil itu benar-benar cocok dengan keadaannya ataukah tidak.
Langkah-langkah uji keberartian:
a)    Hipotesis
Ho : koefisien arah regresi tidak berarti
Ha : koefisien arah regresi berarti
b)   Tentukan  
c)    Statistik hitung
d)   Kriteria uji
Ho diterima jika  
Ho ditolak jika
e)    Kesimpulan
Menurut Sudjana (2003 : 17) rumus-rumus yang digunakan dalam uji Kelinieran:
 
 
 
 
 
 
Keterangan:
 Jumlah Kuadrat Total
 Jumlah Kuadrat Koefisien a
 Jumlah Kuadrat Regresi
 Jumlah Kuadrat Sisa
 Jumlah Kuadrat Tuna Cocok
 Jumlah Kuadrat Galat
Langkah-langkah uji kelinieran:
a)    Hipotesis
Ho : model regresi linier
Ha : model regresi tidak linier
b)   Tentukan  
c)    Tentukan statistik hitung
d)   Kriteria uji
Ho diterima jika  
Ho ditolak jika
e)    Kesimpulan
ANALISIS VARIANS UNTUK UJI KELINIERANREGRESI
Sumber Variasi
Dk
JK
KT
F
Total
N
 
 
-
Regresi (a)
Regresi
Sisa
1
1
n-2
JK(a)
 
JK(S)
JK(a) 
  
 




Tuna Cocok
Kekeliruan
k-2
n-k
 
 
 
 

3.9.5.3. Koefisien Korelasi Sederhana
Untuk mengetahui koefisien korelasi antara variabel bebas X dan variabel terikat Y dengan banyaknya kumpulan data   adalah dengan n digunakan rumus:
   (Sudjana, 2003:47)
Keterangan:
      : koefisien korelasi antara  dan
       : banyaaknya subyek uji coba
    : jumlah skor tiap butir soal
     : jumlah skor total
  : jumlah kuadrat skor tiap butir soal
 : jumlah kuadrat skor total
 : jumlah perkalian skor butir dan skor total
3.9.5.4. Uji Keberartian Koefisien Korelasi Sederhana
Dalam Sudjana (2003:62) rumus yang digunakan:
                                                
Hipotesis:
 koefisien korelasi tidak signifikan
 koefisien korelasi signifikan
Kriteria pengujian yaitu Ho diterima jika  dengan , dk =  n - 2.
3.9.5.5.     Koefisien Determinasi Regresi Linier Sederhana
Besar pengaruh antara variabel bebas  dan variabel terikat  dapat ditunjukkan dengan koefisien determinasi. Besarnya koefisien determinasi dirumuskan dengan  yang menyatakan koefisien determinasi yang menunjukkan pengaruh variabel  terhadap . Menurut Sudjana (2005:370) rumus yang digunakan adalah:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar